Siapa bilang penyakit lupa alias tidak ingat itu cuma konsumsi para lansia. Karena mereka yang masih muda-muda pun bisa saja mengidap penyakit tulalit alias pelupa layaknya yang tua-tua. Malu kan dibilang tulalit sama pacar?
Banyak faktor yang menjadi biang keladi munculnya gangguan kelupaan tersebut, mulai dari makanan yang dikonsumsi, pekerjaan yang menumpuk serta kesibukan-kesibukan lainnya.
Belum lagi dengan keakraban orang muda dengan berbagai perangkat teknologi moderen. Telepon selular, komputer, e-mail, hingga internet, disebut-sebut sebagai piranti teknologi yang bisa memaksa tubuh dan otak terus bekerja selama 24 jam.
Nah, hiruk-pikuknya aktivitas tersebutlah yang konon bisa memicu hilangnya kemampuan otak untuk mengingat-ingat. Namun begitu, gangguan kelupaan tersebut tetap bisa diatasi, kok. Dengan mengikuti beberapa tip sederhana ini, mudah-mudahan penyakit lupa tersebut bisa dihindari:
1. Fokuskan diri untuk mendengar dan kurangi berbicara. Pasalnya, dengan mendengar akan mendorong kita untuk lebih berkonsentrasi.
2. Disiplin berdiet. Melakukan diet sehat dengan mengkonsumsi makanan yang kaya protein, di samping juga buah dan sayuran, akan memberikan suntikan 'tenaga' bagi otak.
3. Usahakan untuk mengurangi bahkan mungkin menghindari pergaulan dengan mereka yang selalu berpikiran negatif. Sebaliknya kembangkan selalu pemikiran positif. Karena berpikir positif itu bisa menstimulir proses kerja otak.
4. Hindari mengkonsumsi makanan berlemak tinggi. Pasalnya lemak-lemak tersebut bisa menyumbat saluran arteri yang tengah menyuplai darah ke otak.
5. Baca, baca, dan baca. Banyak membaca dengan diselingi bermain puzzle merupakan latihan yang sangat baik bagi otak. Karenanya, isilah waktu senggang Anda dengan berbagai jenis bacaan, dari yang fiksi hingga yang berat sekalipun nggak apa-apa kok.
6. Minumlah vitamin, khususnya vitamin E dan suplemen yang mengandung unsur seng. Berbagai penelitian menunjukkan kalau kedua unsur tersebut bisa membantu memperlambat proses penuaan dini serta meningkatkan kemampuan ingatan.
7. Jangan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan. Terlalu banyak alkohol konon akan membunuh sel-sel otak secara perlahan-lahan, lho.
8. Rencanakan selalu aktivitas berinteraksi dengan orang lain. Karena yang namanya bersosialisasi itu konon bisa mengusir rasa malas pada otak.
9. Hindari mengkonsumsi obat-obatan yang tidak perlu. Menurunkan berat badan, tekanan darah, serta kadar kolesterol dalam tubuh terkadang lebih ampuh dengan diet dan olahraga ketimbang obat-obatan. Selain itu usahakan untuk mempelajari dan mengetahui efek samping dari obat-obatan yang Anda minum. Obat tidur misalnya, konon bisa mengakibatkan hilangnya memori.
10. Cobalah untuk menjadwalkan olahraga secara rutin dalam agenda Anda. Pasalnya, aktivitas tersebut bisa melancarkan sirkulasi darah ke otak.
Selasa, 15 April 2008
Tambah Kie Utange....
JAKARTA,SELASA - Selama tahun 2007 utang pemerintah bertambah Rp 97,74 triliun. Hal itu disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing sehingga beban pembayaran utang luar negeri membengkak. Beban utang yang ditanggung jauh lebih besar dari aset yang diterima dari hasil utang itu. Hal itu terungkap dalam neraca Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2007, yang belum diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang diterima Kompas di Jakarta, Senin (14/4).
Dalam neraca LKPP disebutkan kewajiban pemerintah per 31 Desember 2007 mencapai Rp 1.427,8 triliun. Jumlah itu lebih besar Rp 97,7 triliun dibandingkan dengan kewajiban pemerintah per 31 Desember 2006 yang hanya Rp 1.330,1 triliun. Pengamat utang dari Koalisi Anti Utang (KAU), Kusfiardi, menyatakan, beban utang luar negeri itu bukti bahwa beban utang yang ditanggung selama ini jauh lebih besar dari aset yang diterima, dari hasil utang tersebut. Bahkan, sebagian proyek yang didanai oleh utang tidak dapat dimanfaatkan karena terkena bencana alam. ”Beban itu tidak seharusnya ditanggung APBN. Dengan kondisi ini, pemerintah berhak minta pengurangan utang,” ujarnya.
Utang yang lebih besar daripada aset terlihat dalam neraca LKPP 2007. Nilai kewajiban pemerintah per 31 Desember 2007 mencapai Rp 1.427,8 triliun, sedangkan nilai asetnya Rp 1.366,47 triliun. Artinya, neraca pemerintah negatif Rp 61,3 triliun.
Menurut Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Departemen Keuangan (Depkeu) Hekinus Manao, selisih negatif neraca pemerintah semakin turun. ”Tahun 2004, saat pemerintah menyusun LKPP pertama kali, selisih negatif antara aset dan kewajiban pemerintah Rp 500 triliun. Tahun 2005 menjadi Rp 200 triliun lebih, 2006 menjadi Rp 110,3 triliun, dan 2007 menjadi Rp 61,3 triliun,” ujarnya.
Menurut Hekinus, neraca keuangan yang negatif tidak perlu dikhawatirkan karena setiap pinjaman yang diambil dijamin oleh kemampuan pemerintah dalam menambah penerimaan. Ini berbeda dengan yang dilakukan perusahaan, yaitu menjaminkan asetnya untuk berutang. ”Akuntansi pemerintah dan perusahaan berbeda. Pemerintah tidak mengagunkan aset negara untuk pinjam uang,” katanya.
Hekinus menyebutkan, membengkaknya nilai utang pemerintah pada 2007 karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang, yang menjadi basis pinjaman, terutama dollar AS. Perlemahan nilai tukar rupiah menyebabkan beban pembayaran surat utang negara berdenominasi mata uang asing dan pinjaman luar negeri makin tinggi.
Pengamanan aset
Pengamat ekonomi Iman Sugema mengatakan, masalah yang dihadapi pemerintah adalah kemampuan mengidentifikasi dan menilai ulang aset rendah dan lambat. Ini menyebabkan sebagian aset pemerintah di bawah nilai sewajarnya. ”Akibatnya akan selalu ada selisih negatif antara aset dan kewajiban pemerintah. Jika penilaian ulang aset bisa dilakukan, mungkin nilai aset pemerintah yang dicantumkan di neraca lebih besar dua kali lipat,” katanya.
Pemerintah juga menghadapi masalah pengamanan asetnya karena banyak yang belum bersertifikat. Oleh karena itu, Presiden sebaiknya membentuk unit khusus di lingkungan sekretariat negara yang bertugas mengamankan aset negara tersebut. ”Saat ini sudah ada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di Depkeu. Namun jika ingin lebih kuat kewenangannya, sebaiknya dibentuk langsung di bawah kontrol presiden,” ujar Iman.
Dalam neraca LKPP disebutkan kewajiban pemerintah per 31 Desember 2007 mencapai Rp 1.427,8 triliun. Jumlah itu lebih besar Rp 97,7 triliun dibandingkan dengan kewajiban pemerintah per 31 Desember 2006 yang hanya Rp 1.330,1 triliun. Pengamat utang dari Koalisi Anti Utang (KAU), Kusfiardi, menyatakan, beban utang luar negeri itu bukti bahwa beban utang yang ditanggung selama ini jauh lebih besar dari aset yang diterima, dari hasil utang tersebut. Bahkan, sebagian proyek yang didanai oleh utang tidak dapat dimanfaatkan karena terkena bencana alam. ”Beban itu tidak seharusnya ditanggung APBN. Dengan kondisi ini, pemerintah berhak minta pengurangan utang,” ujarnya.
Utang yang lebih besar daripada aset terlihat dalam neraca LKPP 2007. Nilai kewajiban pemerintah per 31 Desember 2007 mencapai Rp 1.427,8 triliun, sedangkan nilai asetnya Rp 1.366,47 triliun. Artinya, neraca pemerintah negatif Rp 61,3 triliun.
Menurut Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Departemen Keuangan (Depkeu) Hekinus Manao, selisih negatif neraca pemerintah semakin turun. ”Tahun 2004, saat pemerintah menyusun LKPP pertama kali, selisih negatif antara aset dan kewajiban pemerintah Rp 500 triliun. Tahun 2005 menjadi Rp 200 triliun lebih, 2006 menjadi Rp 110,3 triliun, dan 2007 menjadi Rp 61,3 triliun,” ujarnya.
Menurut Hekinus, neraca keuangan yang negatif tidak perlu dikhawatirkan karena setiap pinjaman yang diambil dijamin oleh kemampuan pemerintah dalam menambah penerimaan. Ini berbeda dengan yang dilakukan perusahaan, yaitu menjaminkan asetnya untuk berutang. ”Akuntansi pemerintah dan perusahaan berbeda. Pemerintah tidak mengagunkan aset negara untuk pinjam uang,” katanya.
Hekinus menyebutkan, membengkaknya nilai utang pemerintah pada 2007 karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang, yang menjadi basis pinjaman, terutama dollar AS. Perlemahan nilai tukar rupiah menyebabkan beban pembayaran surat utang negara berdenominasi mata uang asing dan pinjaman luar negeri makin tinggi.
Pengamanan aset
Pengamat ekonomi Iman Sugema mengatakan, masalah yang dihadapi pemerintah adalah kemampuan mengidentifikasi dan menilai ulang aset rendah dan lambat. Ini menyebabkan sebagian aset pemerintah di bawah nilai sewajarnya. ”Akibatnya akan selalu ada selisih negatif antara aset dan kewajiban pemerintah. Jika penilaian ulang aset bisa dilakukan, mungkin nilai aset pemerintah yang dicantumkan di neraca lebih besar dua kali lipat,” katanya.
Pemerintah juga menghadapi masalah pengamanan asetnya karena banyak yang belum bersertifikat. Oleh karena itu, Presiden sebaiknya membentuk unit khusus di lingkungan sekretariat negara yang bertugas mengamankan aset negara tersebut. ”Saat ini sudah ada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di Depkeu. Namun jika ingin lebih kuat kewenangannya, sebaiknya dibentuk langsung di bawah kontrol presiden,” ujar Iman.
Kamis, 27 Maret 2008
HAPPY BIRTHDAYZZZZ...

ga kerasa JK sekarang dah 1 tahun,,,
dah tambah usia, pengalaman, relasi dan kawan-kawan semua tentunya...
saya ingin mengucapkan selamat ultah yang pertama buat JK..semoga dengan ini kita bisa melangkah lebih maju,lebih baik, dan lebih produktif kegiatannya,,,
satu tahun masihlah usia yang sangat muda, namun kita semua harus bertekad untuk lebih baik di masa yang akan datang,,,
saya ingat bagaimana kita berjuang detik demi detik, menit demi menit....
semua itu kita nikmati dengan rasa semangat yang menggebu..
congratulation for all...keep figh till the end!!!
Rabu, 19 Maret 2008
World Silent Day
Rekan-rekan penghuni bumi,
Berikut ini kami sampaikan himbauan dan ajakan mematikan peralatan listrik selama empat jam pada 21 Maret 2008, sebagai bagian dari kontribusi individu mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini adalah langkah awal kampanye mencanangkan 21 Maret sebagai HARI HENING DUNIA (World Silent Day).
Kampanye tersebut dipelopori masyarakat dan LSM Bali yang tergabung dalam Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim pada konferensi PBB mengenai perubahan iklim di Bali Desember 2007 lalu.
21 Maret adalah juga Hari Air dan hari pertama musim semi di utara – simbolisasi dari kehidupan.
BERI SATU HARI UNTUK BUMI BERNAFAS
Berikut ini kami sampaikan himbauan dan ajakan mematikan peralatan listrik selama empat jam pada 21 Maret 2008, sebagai bagian dari kontribusi individu mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini adalah langkah awal kampanye mencanangkan 21 Maret sebagai HARI HENING DUNIA (World Silent Day).
Kampanye tersebut dipelopori masyarakat dan LSM Bali yang tergabung dalam Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim pada konferensi PBB mengenai perubahan iklim di Bali Desember 2007 lalu.
21 Maret adalah juga Hari Air dan hari pertama musim semi di utara – simbolisasi dari kehidupan.
BERI SATU HARI UNTUK BUMI BERNAFAS
Senin, 10 Maret 2008
Perbincangan Ketjil #2: Tantangan Kemanusiaan
“Tidak ada makhluk yang paling ajaib selain manusia”, demikian seru Sophocles ribuan tahun lalu. Setelah jaman berganti, waktu menjadi tua, ungkapan itu masih tetap berlaku. Manusia masih tetap menjadi makhluk “mystere” yang tidak akan habis dipecahkan dan terus-menerus mencari jati dirinya. Manusia menjalani kehidupan dan kemanusiaannya dengan atau tanpa pengertian akan dirinya. Jasmani manusia menuntut untuk dipelihara, diberi asupan makanan, air, udara, kemudian mengeluarkan apa yang semestinya dikeluarkan, yakni makanan, air, dan udara itu juga. Hal yang mungkin terjadi dengan atau tanpa pemahaman tentang dirinya atau dunia di luar dirinya.Waktu berlalu, manusia cepat sekali menjadi tua, dan muda remaja tumbuh menggantikannya. Selama perjalanan waktu, manusia berkembang dalam banyak cara, menjalani kehidupan yang ‘begini’ atau kehidupan yang ‘begitu’, tidak pernah sama untuk setiap orang. Lalu pada waktu yang sekarang, apakah pernah terbetik dalam benak kita, mengapa keadaan untuk setiap orang bisa begitu berkebalikannya. Seseorang menerima uang 6,1 Milyar, dan di lain pihak sebanyak 6.100 orang mungkin mati busung lapar, atau mungkin seorang ibu dengan bayinya, mungkin anak-anak kecil, mungkin orang tua renta yang bahkan tak punya tempat untuk kubur ‘semewah’ di Astana Giribangun.
Manusia……manusia……harus siap untuk terluka, harus siap untuk kelaparan, harus siap untuk dianiaya, harus siap untuk menyakiti dirinya sendiri, dan harus siap untuk menjadi gila. Manusia menghadapi tantangannya setiap hari, setiap detik, setiap jengkal, dan setiap inchi dalam kehidupannya. Manusia tidak saja menghadapi keterbatasan jasmani, luka, penyakit, parasit, virus, bakteri, dan degenerasi gen, namun juga dihantui oleh kerapuhan rohani. Manusia memiliki risiko untuk kehilangan pikirannya, seperti yang disebutkan oleh Erich Fromm, yang berarti kehilangan dirinya di tengah-tengah alam semesta ini.
“Hidup di dunia ini pada dasarnya adalah menderita”, demikian pepatah Buddha yang juga diyakini oleh sebagian orang Jawa. Apakah itu benar? Banyak orang yang memilih untuk membunuh dirinya sendiri, atau anaknya, atau keluarganya, ketimbang memilih untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Apakah yang terjadi pada alam pikiran manusia sehingga pilihannya adalah meniadakan dirinya? Apa guna akal dan nalar yang menjadi keistimewaan manusia dibanding makhluk-makhluk lain? Apakah alasan ekonomi atau psikologis cukup kuat untuk membenarkan tindakan bunuh diri?
Mari kita lihat. Seorang penganut agama yang meyakini bahwa hidup ini penuh dengan penderitaan, tidak lantas putus asa lalu bunuh diri. Tetapi ia belajar dan memahami bagaimana supaya terlepas dari penderitaan itu. Seorang Jawa yang prihatin, melawan penderitaannya dengan sikap nrimo. Sehingga, dalam taraf apa pun – pengetahuan – sekecil apa pun, mampu menyelamatkan.
Pengetahuan yang berdasar pada keyakinan, pengetahuan yang bersandar pada kekuatan hidup seorang manusia – atau totipotensi – kemampuan suatu organ hidup yang kecil untuk tumbuh dan berkembang. Pengetahuan adalah senjata sekaligus pertahanan terakhir seorang manusia, demikian Pram. Pengetahuan memberikan alternatif-alternatif pilihan yang lebih banyak, memberikan fakta bahwa penderitaan itu tidak hanya dialami oleh kita sendirian. Pengetahuan menawarkan penerimaan dan sekaligus memberikan harapan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran kemanusiaan. “Homo sum, humani nil a me alienum puto (saya adalah manusia, dan tidak ada manusia lain yang terpisah dengan saya)”, demikian dikatakan Tenese.

“Hidup di dunia ini pada dasarnya adalah menderita”, demikian pepatah Buddha yang juga diyakini oleh sebagian orang Jawa. Apakah itu benar? Banyak orang yang memilih untuk membunuh dirinya sendiri, atau anaknya, atau keluarganya, ketimbang memilih untuk bertahan dan melanjutkan hidup. Apakah yang terjadi pada alam pikiran manusia sehingga pilihannya adalah meniadakan dirinya? Apa guna akal dan nalar yang menjadi keistimewaan manusia dibanding makhluk-makhluk lain? Apakah alasan ekonomi atau psikologis cukup kuat untuk membenarkan tindakan bunuh diri?
Mari kita lihat. Seorang penganut agama yang meyakini bahwa hidup ini penuh dengan penderitaan, tidak lantas putus asa lalu bunuh diri. Tetapi ia belajar dan memahami bagaimana supaya terlepas dari penderitaan itu. Seorang Jawa yang prihatin, melawan penderitaannya dengan sikap nrimo. Sehingga, dalam taraf apa pun – pengetahuan – sekecil apa pun, mampu menyelamatkan.
Pengetahuan yang berdasar pada keyakinan, pengetahuan yang bersandar pada kekuatan hidup seorang manusia – atau totipotensi – kemampuan suatu organ hidup yang kecil untuk tumbuh dan berkembang. Pengetahuan adalah senjata sekaligus pertahanan terakhir seorang manusia, demikian Pram. Pengetahuan memberikan alternatif-alternatif pilihan yang lebih banyak, memberikan fakta bahwa penderitaan itu tidak hanya dialami oleh kita sendirian. Pengetahuan menawarkan penerimaan dan sekaligus memberikan harapan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran kemanusiaan. “Homo sum, humani nil a me alienum puto (saya adalah manusia, dan tidak ada manusia lain yang terpisah dengan saya)”, demikian dikatakan Tenese.
Jumat, 22 Februari 2008
Suksesi Kuba
Havana, Selasa - Usia lanjut 81 tahun dan kesehatan yang memburuk membuat Fidel Castro, Selasa (19/2), memutuskan mundur sebagai Presiden Kuba. Keputusan ini mengakhiri peran Castro sebagai kepala negara Kuba selama 49 tahun ini, jabatan yang diraihnya melalui revolusi bersenjata pada tahun 1959.
Dalam pernyataan yang diterbitkan situs web surat kabar Granma milik Partai Komunis Kuba, Castro menegaskan, dirinya tak akan lagi memimpin sebagai Presiden Kuba. Dikatakan, dia tidak akan memperpanjang masa kepresidenannya pada sidang Majelis Nasional (parlemen) 24 Februari nanti.
”Kepada rekan-rekan pejuang yang memberikan penghargaan dengan memilih saya sebagai anggota parlemen, saya mau menyampaikan kepada Anda bahwa saya tidak akan menerima, saya ulangi lagi, tidak akan menerima posisi sebagai Presiden Dewan Negara dan Panglima Militer,” ujar Castro dalam pernyataanya.
Castro tidak pernah tampil di depan umum dalam 19 bulan ini setelah diserang sakit pada pertengahan tahun 2006. Pemerintah Kuba tak pernah mengungkapkan apa penyakit yang menyerang Castro. Hanya disebutkan, Castro harus menjalani pembedahan untuk menghentikan perdarahan pada ususnya.
Sejak saat itu, Fidel Castro lebih banyak terlihat dalam foto atau televisi. Castro yang tinggi besar dan gagah, terutama saat berpidato dengan seragam militer, kini terlihat cekung, kurus, dan lemah. Castro dikenal jago berpidato dan pernah menyampaikan pidato selama dua jam.
Sekitar setahun lalu, kesehatan Castro beberapa kali dilaporkan membaik. Castro sempat bertemu dengan sejumlah tamu. Kesempatan itu juga memungkinkan Castro menulis sejumlah artikel yang diterbitkan media Pemerintah Kuba, yang isinya antara lain mengecam serangan militer AS atas Irak.
Fidel Castro lahir di Biran, Kuba timur, 13 Agustus 1926. Castro datang dari keluarga tuan tanah. Namun, seusai memenangi revolusi bersenjata atas diktator Fulgencio Batista dukungan AS tahun 1959, Castro langsung menyita tanah milik keluarganya untuk negara.
Menetapkan Raul Castro
Pengunduran Castro membuat Majelis Nasional pada sidang 24 Februari nanti akan menetapkan Raul Castro, 76 tahun, adik Fidel Castro sebagai Presiden Kuba. Raul selama ini menjabat Menteri Pertahanan dan praktis sejak 31 Juli 2006 sudah bertindak sebagai pejabat presiden.
Di bawah Raul, Kuba dipastikan tetap mempertahankan idealisme komunis yang disandang selama 49 tahun ini. Kuba menjadi satu-satunya negara komunis yang berada di belahan Barat. Tadinya Raul diharapkan akan melakukan reformasi ekonomi guna membantu kehidupan rakyat Kuba, tetapi sejauh ini belum terjadi apa pun.
Presiden AS George Walker Bush, yang berada di Kigali, Rwanda, menegaskan, berita pensiunnya Fidel Catsro diharapkan menjadi awal dari ”transisi demokratik” di Kuba yang ditandai dengan pemilihan umum yang adil dan bebas.
”Saya melihat hal ini sebagai sebuah periode transisi dan akan menjadi awal dari transisi demokratik bagi rakyat Kuba,” ujar Bush yang menerima berita soal Castro ini dari penasihat keamanan nasionalnya. Bush akan memberikan keterangan resmi pada Selasa malam.
Bush menyerukan kepada masyarakat internasional agar membantu rakyat Kuba mendirikan lembaga yang diperlukan untuk demokrasi. ”Amerika Serikat akan membantu rakyat Kuba menyadari nikmatnya kebebasan,” ujarnya.
Jaringan televisi CNN memperlihatkan masyarakat Kuba yang tinggal di AS bersorak gembira setelah mendengar berita pengunduran diri Fidel Castro. Ratusan ribu warga Kuba menggunakan rakit, perahu, dan sarana seadanya guna melarikan diri ke Florida, AS, yang hanya terpisah oleh laut sejauh 145 kilometer, mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Arus warga Kuba ke AS berlangsung sejak Castro berkuasa, lebih-lebih lagi setelah bubarnya Uni Soviet pada awal tahun 1990-an. Hilangnya subsidi bernilai miliaran dollar AS dari Moskwa membuat kehidupan sosial ekonomi warga Kuba semakin berat. (Reuters/AFP/AP/ppg)
Selasa, 19 Februari 2008
TIPS:

PENGENDALIAN KESADARAN UNTUK BERPIKIR BESAR*
By:Evoel
Seringkali kita berpikir bahwa mengapa orang bisa berbuat hal-hal yang hebat, menghasilkan karya-karya besar dan sangat berpengaruh luas bagi masyarakat dan peradaban bumi ini. Atau bahkan cuma bisa merasakan hidupnya lebih indah, dan dijalaninya dengan penuh sukacita. Sedangkan kita, atau Anda merasa hidup ini tidak adil. Kita tidak pernah mendapatkan apa yang kita inginkan, dan tidak bisa melakukan apa yang kita ingin lakukan. Lalu kita menyalahkan Tuhan, orang tua kita, dan lingkungan sekitar kita.
Sebenarnya itu hanyalah pikiran kita. Pikiran yang sudah terbebani dan terpengaruh oleh apa yang sudah terjadi pada kita di masa yang telah lalu dan masa sekarang. Kehidupan kita sebenarnya dikendalikan oleh pikiran itu, yang terletak di otak kita. Seperti yang dikatakan oleh William Shakespeare bahwa, “Tak ada buruk atau baik kecuali yang dibuat buruk dan baik oleh pikiran”. Jadi, setiap langkah yang kita ambil merupakan tanggung jawab dari hasil (output) pikiran yang melintas di benak kita. Untuk membuat kita menjadi orang yang bisa menikmati hidup, merasakan indahnya dunia ini, terhindar dari perasaan iri, dan sebagainya, maka diperlukan pikiran-pikiran besar dan hebat. Seperti yang dikatakan oleh Ralph Waldo Emerson bahwa, “Manusia besar adalah mereka yang mengetahui bahwa pikiran-pikiran besar menguasai dunia”.
Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa menguasai pikiran-pikiran hebat itu dengan apa adanya diri kita masing-masing. Pikiran itu tidak bisa tumbuh begitu saja pada setiap orang. Yang harus kita lakukan adalah menjaga kesadaran untuk membuat itu dapat terjadi. Sebenarnya pikiran-pikiran hebat itu sudah banyak kita ketahui. Ribuan pepatah, kata-kata bijak, kunci-kunci keberhasilan, trik-trik sukses, metode belajar, dorongan ibadah, pengetahuan surga-neraka, pahala dan dosa, hukum, dan sebagainya. Namun kita merasa itu hanyalah sebagai pengetahuan biasa saja. Tanpa mencoba berusaha lebih keras untuk melakukan dan menanggapinya. Hal tersebut memang terlalu ideal dan terkadang sulit untuk dikerjakan. Tapi setidak-tidaknya untuk membuat hidup kita lebih indah, lebih bermakna, kita perlu tahu tentang pengendalian kesadaran, yaitu melakukan sesuatu dengan spirit atau jiwa kita.
Kesadaran yang akan menentukan baik buruknya pikiran kita dan tenaga untuk menjalankannya dipengaruhi oleh banyak faktor. Tetapi sebelum kita mengetahuinya, kita harus mencamkan pada diri kita sebuah pepatah dari William Butler Yeats, “My self must I remake”, yaitu tidak ada yang dapat merubah diri kita selain diri kita sendiri. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menumbuhkan kesadaran yang akan mendorong kita melakukan hal-hal yang besar:
Hal pertama yang berpengaruh pada kesadaran kita dalam berpikir adalah tranferensi, yaitu berlangsungnya pengiriman (transfer) cara pandang masa lampau ke masa kini. Betapa berpengaruhnya relasi emosi yang terjadi pada waktu lampau terhadap mentalitas kita sekarang. Pengaruh orang tua, hubungan dengan teman sekolah, lingkungan, dan pemenuhan kebutuhan kita akan membawa corak pada sikap, perilaku, dan mentalitas kita. Belajarlah untuk mengurangi (merevisi) transferensi dengan terus-menerus mencermati cara pandang yang dipakai untuk menghadapi kehidupan ini hari demi hari. Mulailah berpikir realistis dan sesuai dengan kehidupan masa kini, dan mulailah melupakan masa lalu. Berpikirlah “here and now” dan hadapi hambatan-hambatan tranferensi. Psikiater M. Scott Peck menyebut penghambat itu sebagai inertia of laziness (berasal dari rasa malas), dan resistance of fear (rasa takut untuk berubah). Nietzsche pernah berujar, “Belajarlah bagaimana melupakan pada saat yang tepat dan mengingat pada saat yang tepat”. Masa lampau atau sejarah dapat memasukkan orang ke dalam keputusasaan yang mendalam atau mendorongnya menciptakan keindahan. Sejarah dapat mendorong orang untuk mengafirmasi sekaligus menolak hidup. Ketidakmampuan orang melupakan sejarah dapat memenjarakannya pada situasi yang membuat ia tidak mampu mengambil keputusan dan menjadi kreatif. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai kesadaran masa lampau juga tidak normal. Akibat yang ditimbulkannya adalah tidak dapat mengatur diri sendiri, merusak kesempatan-kesempatan untuk hidup terus, dan membuat kebudayaan tanpa tradisi. Bagi Nietzsche, dunia dipenuhi dan disempurnakan pada setiap saat dan dengan demikian tujuan dapat dicapai pada setiap saat pula.
Hal yang kedua yaitu, kesadaran perlu diusahakan dan perlu digerakkan. Lakukan hal-hal yang dapat mendongkrak kesadaran kita. Ciptakanlah mood kita sendiri. Tidak perlu menunggu spirit dan jiwa kita menggerakkan kesadaran itu, karena akan semakin menambah beban masalah. Kembangkanlah persahabatan, sahabat menurut Kahlil Gibran adalah kebutuhan jiwa yang mesti terpenuhi. Maksud dari persahabatan adalah saling memperkaya ruh kejiwaan, saling mengisi kekurangan dan membagi kebahagiaan serta kesedihan. Orang yang memiliki banyak sahabat adalah orang yang pandai menyelami hidup, begitu kata orang Jepang. Namun, jika kita tidak banyak memiliki sahabat, maka kita pun bisa menciptakan sahabat sendiri. Jangan anggap kesepian merupakan alat pembunuh pikiran kita. “Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terpupuk dalam riak besar kehidupan”, demikian penyair besar J. Wolfgang von Goethe mengingatkan. Belajarlah mengoptimalkan pikiran, karena dari 100 persen kapasitas otak, manusia hanya dapat memakai 10 persen saja untuk berpikir dan orang jenius hanya telah memakai 6 persen kapasitas otaknya! Gali dan cari warna serta kompetensi kita sendiri, karena manusia adalah makhluk yang unik dan kreatif dalam situasi apa pun. Sering membaca dapat menjaga kesadaran kita. Anda dapat menemukan banyak hal untuk dipikirkan ketika membaca. Berlatihlah mewujudkan ide-ide yang muncul dengan berkreasi dan mereproduksinya dalam bentuk-bentuk yang memungkinkan. Hal tersebut pertama-tama harus dipaksakan, misalnya jika Anda memiliki ide untuk menulis maka cepat-cepatlah tuliskan pada media yang dapat Anda temui, jangan biarkan hal-hal lain mengganggu dan menghilangkan ide itu. Camkan pepatah yang pernah dilontarkan oleh Benyamin Franklin, “Jangan tangguhkan sampai besok, apa yang Anda dapat lakukan hari ini”.
Hal yang ketiga adalah bagaimana kita memanfaatkan lamunan (daydream). David J. Schwartz mengatakan bahwa, “Kehidupan yang besar selalu dimulai dengan impian besar”. Jangan pernah takut untuk bermimpi. Apa yang dilamunkan oleh pikiran Anda bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Paling tidak Anda dapat menciptakan dan mengontrol lamunan dan mencoba mengangankan bagaimana membuatnya menjadi kenyataan. Faktor-faktor apa saja yang diperlukan, siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan bagaimana memperlakukannya untuk mencapai impian Anda itu. Berpikirlah positif dan selalu optimis, karena dengan membayangkan keberhasilan, kita akan tergugah untuk berusaha mewujudkannya. Begitu pula dalam tujuan kita untuk menjaga kesadaran diperlukan lamunan, impian, khayalan, dan pergerakan. Karena seperti apa yang dikatakan oleh C. Nicholson Hilton bahwa, “Nilai Anda ditentukan oleh adonan yang Anda buat sendiri”, bagaimana Anda mengolah dan menempa diri Anda. Terdapat beberapa cara yang dikemukakan oleh Dr. Singer, psikolog dari Universitas Yale dan Elle Switzer untuk memanfaatkan lamunan, yaitu: 1) dimanfaatkan untuk menggambarkan bagaimana kita akan menghadapi suatu kesulitan, mengulangi pemecahan atau reaksi untuk suatu kejadian atau situasi yang mungkin terjadi di masa depan atau bercekcok dalam kepala sampai persoalan yang dihadapi selesai, dan 2) lamunan bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu, karena melamun berhubungan dengan keadaan istirahat dan bisa mengurangi rasa tegang, stress, dan risau. Apa pun yang dapat Anda lakukan, yang Anda impikan, mulailah. Keberanian mengandung kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya, demikian W.H. Murray. Armijn Pane menulis, “Angan-angan yang hidup menjadi cita-cita, dan cita-cita menghidupkan manusia, membuat dia bernyawa dan bergerak”. Sebagaimana yang dikatakan juga oleh Khoo Ping Ho, “Hidup adalah gerak!”.
Hal yang keempat adalah bagaimana cara kita menikmati hidup ini. Apa pun yang telah kita capai sekarang, betapa pun tidak bahagia dan puasnya kita, nikmatilah! “Kita ditantang oleh 1000 Dewa!”, begitu jerit Rendra. Jika kucing memiliki 9 nyawa, maka untuk manusia tidak cukup 10 nyawa! Begitu banyak tantangan kemanusiaan yang perlu kita hadapi, begitu banyak kebutuhan yang perlu kita penuhi, begitu banyak tuntutan yang perlu kita buktikan. “Never look back, unless you can laugh. Never look forward unless you can dream”, ingat salah satu boss di Formula 1 Eddie Jordan. Betapa pun sulitnya, betapa pun kecilnya apa yang kita dapatkan dan kita kerjakan sekarang, cobalah untuk tidak mengeluh. Kita boleh marah, sedih, terluka, but life must go on. Jangan terlalu sering menengok ke belakang, jangan membesar-besarkan penyesalan tanpa memperbaikinya, ekspresikan kelebihan dan kemampuan kita dalam setiap kesempatan. Hal itu akan menambah keyakinan pada cara berpikir kita. Mulailah merasakan hidup ini lebih baik, saat kita baru saja bangun tidur di pagi hari. Tanamkan kesanggupan menerima hidup ini apa adanya. Karena hal itu pula yang dirasakan oleh Malcolm X, “Hanya aku sendiri yang bisa memahami, bahwasannya aku telah menemukan sebuah hal besar untuk dikerjakan, yaitu menerima segala sesuatu dengan pasrah apa yang sudah terjadi atas diriku”. Ada baiknya merasa cukup dengan pemberian Tuhan, tanpa harus berhenti berusaha lebih keras untuk maju. Mencoba lebih dekat dengan Tuhan akan memberikan kesadaran yang lebih baik. Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari kesalahan dan kekhilafan. Tetapi seperti yang dikatakan Erich Fromm, “Setiap saat adalah suatu momen keputusan untuk lebih baik atau lebih buruk”. Tidak ada kata terlambat untuk bangkit kembali.
Hal yang kelima adalah kemampuan mengendalikan rasa takut. Semua orang pasti memiliki rasa takut akan sesuatu, dan rasa takut yang paling hebat adalah takut menghadapi orang. Itu merupakan suatu penyakit psikologis yang sangat mempengaruhi pikiran kita. Nyonya Franklin D. Roosevelt memberikan resep dalam menyembuhkan penyakit itu, yakni dengan mengambil tindakan dan dengan menghadapinya secara langsung. “Kita harus melakukan hal yang kita pikir tidak bisa kita lakukan”, tulisnya. Dengan begitu kita akan dapat menghadapi ketakutan yang berikutnya dengan hati tenang. “Manusia harus berjuang bukan hanya untuk melawan bahaya kematian, kelaparan, dan luka, melainkan juga untuk melawan bahaya lain yang khusus bagi manusia: menjadi gila”, demikian Erich Fromm. Dengan kata lain, manusia bukan hanya harus melawan bahaya kehilangan kehidupannya, melainkan juga harus melawan bahaya kehilangan akalnya. Padahal, tidak ada satu pun aset yang paling berharga dan yang paling kuat selain pikiran kita. Orang sukses, lanjut Fromm, tidak dihantui oleh perasaan takut, jenuh, atau sepi. Dia harus menemukan dunia yang lebih baik dari semua dunia ini, agar dapat berubah menjadi lebih baik, dia harus menekan ketakutan sebagaimana keraguan, depresi, dan ketidakberdayaan.
Hal terakhir yang berpengaruh pada kesadaran kita adalah keinginan yang besar atau ambisi. Ambisi berbeda dengan impian. Dengan ambisi, seseorang akan berusaha jauh lebih keras untuk menggapai apa yang dia dikehendaki. Karena dengan ambisi yang besar, kita harus membuat rencana-rencana yang besar pula. Ambisi akan menimbulkan kegairahan dalam hidup kita. Ambisi seperti halnya nafsu atau angin, dibutuhkan oleh kapal yang sedang berlayar di tengah lautan, ia akan mandeg jika tidak ada angin dan akan karam jika angin terlalu besar. Ambisi membuat orang merasa terus dalam persaingan orang-orang hebat. Sampai-sampai orang sekaliber Plato pun mengatakan, “Hanya pertandingan, yang membuatku menjadi seorang penyair, seorang sophist, seorang orator”. Untuk menuntaskan suatu ambisi, kita perlu mengasah terus kemampuan, dan meningkatkan rasa antusiasme di dalam diri kita. Menurut C. Nicholson Hilton, antusiasme merupakan kekuatan yang tidak ada habisnya. Antusiasme dapat membantu mewujudkan ambisi kita. “Hasil terbaik yang dapat dicapai seorang manusia adalah hasil perpaduan antara ide dan antusiasme”, demikian Thomas J. Watson. Dengan antusiasme akan timbul semangat, keuletan, dan pantang menyerah, sehingga pintu keberhasilan semakin dekat dengan langkah kita. Jika kita dapat mempertahankan antusiasme ini seumur hidup, maka kita tidak akan pernah mengalami pensiun dalam arti harfiah. Maksudnya, kita tidak akan berhenti berkarya dan berpikir sampai akhir hayat kita. Dengan cara ini kita bisa maju, melindungi, dan memberi ilham dalam kehidupan.
Dengan pengendalian kesadaran yang teratur dan dilakukan secara terus menerus, akan tercipta suatu keadaan di mana kesadaran itu dapat mengatur dengan sendirinya. Kesadaran itu tidak boleh berhenti dan harus senantiasa berproses, berkembang dan meluas dari satu tahap ke tahap berikutnya sampai pada suatu kesadaran tertinggi yang oleh Paulo Freire disebut “the consice of the consciousness” (kesadarannya kesadaran). Hal ini sesuai dengan penggambaran karakteristik manusia yang dikemukakan oleh Karl Mark sebagai “free conscious activity” (manusia yang bertindak secara sadar). Kita diharapkan mampu membuahkan karya-karya terbaik yang akan berguna bagi dunia ini. Minimal kita melakukannya untuk diri kita sendiri, sehingga mampu menatap keindahan dunia ini melalui mata-mata mereka yang telah berhasil.
*dengan beberapa perubahan, edisi bahasa Inggris diterbitkan oleh VOSEF Vol. 2002, penulis yang sama, dari banyak sumber.
Jumat, 15 Februari 2008
Valentine Day to be A Philanthropy Day
.jpg)
.jpg)
Di tengah-tengah perdebatan mengenai apakah perlu tidaknya perayaan valentine day, kami memilih untuk menjadikannya sebagai salah satu penanda waktu untuk berkegiatan. Dengan tanpa menyebut-nyebut valentine day, hari kasih sayang, coklat, pink, mawar merah, kartu ucapan, 14 Februari, atau atribut lainnya yang tertuju pada sebuah kebudayaan asing, kami kumpulkan anak-anak yang baru bubar sekolah dan menggelar perlombaan sederhana yang kami namai “Spelling Contest”. Ini pun budaya asing yang memakai istilah asing dan kebetulan lomba itu pun mengharuskan peserta mengeja kata-kata asing (dalam hal ini Bahasa Inggris).
Kami mulai berpikir-pikir, lama-kelamaan manusia bisa “terasing” karena tidak mengenal yang “asing-asing”. Karena kami pun menggunakan perangkat ‘kamera’, ‘komputer’, ‘flash disk’, ‘internet’, ‘blog’, lalu tulisan dan gambar-gambar ini dapat dibaca dan dilihat anda atau siapa saja, yang tadinya semua itu masih asing. Jadi, hemat kami merayakan valentine day atau perayaan lain dari berbagai-bagai bangsa atau agama tidak menjadi masalah diukur dari tujuan dan caranya. Jika valentine day dirayakan dengan hura-hura, pemborosan, dan sex bebas seperti yang mungkin terjadi pada perayaan tahun baru masehi, kami jelas-jelas menolaknya (kedua-duanya, valentine day dan tahun baru itu).
Jadi ini bukan tentang ‘merayakan’ valentine day. Karena kata teman-teman yang menentang valentine day, “kasih sayang kan bisa ditunjukkan setiap hari”. Ini hanya tentang momentum, karena kami tidak lantas bertanya, “mengapa idul kurban tidak dirayakan tiap hari?” atau “mengapa bagi-bagi angpau hanya ketika Imlek saja?” atau “kenapa mensyukuri nikmat umur kok pas hari ulang tahun saja?” Untuk menjaga esensi suatu nilai, kasih sayang, rasa syukur, atau kedermawanan, memang seringkali dibutuhkan suatu momen khusus. Sampai-sampai kesultanan Turki perlu mencanangkan perayaan Maulid Nabi dengan tujuan kembali meneladani dan mempelajari peri kehidupan Nabi Muhammad SAW. Manusia memang terlalu mudah lupa dan teralihkan oleh berbagai kenyataan hidup, memiliki kecenderungan ‘ujub, takabur, dan jumawa. Oleh karena itu, sebuah perayaan kadang-kadang diperlukan.
Melihat antusiasme anak-anak ketika mengikuti lomba dan menunjukkan ‘kebolehannya’ mengeja kata-kata, membuat hati kami sedikit ciut. Karena hadiah yang bisa kami berikan hanyalah ‘sekedar hadiah’. Mungkin antusiasme ini kurang lebih sama dengan antusiasme masyarakat ketika menonton hewan kurban dipotong, diiris-iris dan bagikan.
Selasa, 12 Februari 2008
mau jadi apa kita???
Jakarta, Kompas - Jumlah sarjana yang menganggur melonjak drastis dari 183.629 orang pada tahun 2006 menjadi 409.890 orang pada tahun 2007. Ditambah dengan pemegang gelar diploma I, II, dan III yang menganggur, berdasarkan pendataan tahun 2007 lebih dari 740.000 orang.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal, mengutip data Badan Pusat Statistik, mengatakan, hingga Februari 2007, jumlah sarjana yang menganggur sebanyak 409.890 orang. Belum lagi lulusan diploma III yang belum mendapatkan pekerjaan sebanyak 179.231 orang serta diploma I dan diploma II yang menganggur berjumlah 151.085 orang. Total penganggur keluaran institusi pendidikan tinggi berjumlah 740.206 orang.
Angka-angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 (hingga Agustus). Pada tahun tersebut angka sarjana yang menganggur sebanyak 183.629 orang. Adapun untuk lulusan diploma III sebanyak 94.445 orang serta lulusan diploma I dan diploma II berjumlah 130.519 orang. Total penganggur keluaran institusi pendidikan tinggi berjumlah 408.593 orang.
Fasli Jalal mengatakan, data itu berdasarkan pendataan Badan Pusat Statistik terhadap lulusan pendidikan tinggi yang belum bekerja, tidak mempunyai usaha tertentu, dan terbuka kemungkinan sedang transisi berpindah kerja.
Tidak terserapnya lulusan pendidikan tinggi tersebut antara lain disebabkan kompetensi lulusan yang masih rendah atau tidak sesuai kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, dibutuhkan standar nasional guna menjamin kualitas lulusan.
Program studi jenuh
Penyebab lain ialah terdapat program-program studi dengan jumlah lulusan yang sudah terlalu berlimpah atau jenuh. Jurusan yang jenuh tersebut terutama untuk ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Namun, Departemen Pendidikan Nasional sendiri masih harus melihat distribusi lulusan antardaerah dan kebutuhan daerah.
”Bisa saja di perkotaan atau daerah jumlah lulusan dari program studi tersebut berlimpah, tetapi di daerah lain justru kekurangan. Jadi, tidak bisa langsung asal menutup atau membuka program studi,” ujarnya.
Selain itu, dapat saja sebuah daerah yang kekurangan lulusan perguruan tinggi program studi tertentu mengirim mahasiswa dengan beasiswa ke perguruan tinggi yang telah ada dan kemudian membuat sistem ikatan dinas agar para putra daerah itu kembali untuk membangun daerahnya.
Angka partisipasi kasar (APK) di tingkat pendidikan tinggi terus meningkat hingga saat ini sekitar 17 persen dari penduduk berusia 19-24 tahun yang jumlahnya mencapai 25 juta orang. Setiap kenaikan 1 persen dibutuhkan sekitar lebih dari 100.000 mahasiswa. Walaupun, APK secara regional masih berbeda-beda, bahkan masih ada daerah yang APK perguruan tingginya cuma 6 persen. (INE)
Pokoknya Tetep Semangat aja deh ......
diambil dari www.kompas.co.id
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal, mengutip data Badan Pusat Statistik, mengatakan, hingga Februari 2007, jumlah sarjana yang menganggur sebanyak 409.890 orang. Belum lagi lulusan diploma III yang belum mendapatkan pekerjaan sebanyak 179.231 orang serta diploma I dan diploma II yang menganggur berjumlah 151.085 orang. Total penganggur keluaran institusi pendidikan tinggi berjumlah 740.206 orang.
Angka-angka tersebut bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 (hingga Agustus). Pada tahun tersebut angka sarjana yang menganggur sebanyak 183.629 orang. Adapun untuk lulusan diploma III sebanyak 94.445 orang serta lulusan diploma I dan diploma II berjumlah 130.519 orang. Total penganggur keluaran institusi pendidikan tinggi berjumlah 408.593 orang.
Fasli Jalal mengatakan, data itu berdasarkan pendataan Badan Pusat Statistik terhadap lulusan pendidikan tinggi yang belum bekerja, tidak mempunyai usaha tertentu, dan terbuka kemungkinan sedang transisi berpindah kerja.
Tidak terserapnya lulusan pendidikan tinggi tersebut antara lain disebabkan kompetensi lulusan yang masih rendah atau tidak sesuai kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, dibutuhkan standar nasional guna menjamin kualitas lulusan.
Program studi jenuh
Penyebab lain ialah terdapat program-program studi dengan jumlah lulusan yang sudah terlalu berlimpah atau jenuh. Jurusan yang jenuh tersebut terutama untuk ilmu sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Namun, Departemen Pendidikan Nasional sendiri masih harus melihat distribusi lulusan antardaerah dan kebutuhan daerah.
”Bisa saja di perkotaan atau daerah jumlah lulusan dari program studi tersebut berlimpah, tetapi di daerah lain justru kekurangan. Jadi, tidak bisa langsung asal menutup atau membuka program studi,” ujarnya.
Selain itu, dapat saja sebuah daerah yang kekurangan lulusan perguruan tinggi program studi tertentu mengirim mahasiswa dengan beasiswa ke perguruan tinggi yang telah ada dan kemudian membuat sistem ikatan dinas agar para putra daerah itu kembali untuk membangun daerahnya.
Angka partisipasi kasar (APK) di tingkat pendidikan tinggi terus meningkat hingga saat ini sekitar 17 persen dari penduduk berusia 19-24 tahun yang jumlahnya mencapai 25 juta orang. Setiap kenaikan 1 persen dibutuhkan sekitar lebih dari 100.000 mahasiswa. Walaupun, APK secara regional masih berbeda-beda, bahkan masih ada daerah yang APK perguruan tingginya cuma 6 persen. (INE)
Pokoknya Tetep Semangat aja deh ......
diambil dari www.kompas.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)