Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2007

SEJENAK

Ups, dadaku sesak
jantungku berhenti sejenak

Ada yang terasa panas
seakan - akan mulai menghangus

Tak bisa meluap
Ku tahan agar tak tersingkap

Sedikit marah padamu
ternyata yang kurasa, itu cemburu.


15 December 2007

Rabu, 31 Oktober 2007

Arda Nariswari

betapa indahnya dunia ini
bentuk, warna, rasa, tekstur
dan suara gesek bambu di desau angin
kicau burung mendendang merdu
semesta cerah
makhluk sumringah
fajah merah
senja merah
semerbak harum bunga mencipta suasana

semua kesempurnaan dunia
tertumpah pada makhluk yang paling mulia
ia cinta pada Tuhan-Nya
ia cinta pada Nabi-Nya
ia mengasah jiwanya seindah mutiara

tak sanggup ia berbantah dengan orang tua
selalu berbakti kepadanya
menjaga benar keindahan dan kehormatannya

baginya belajar adalah dunianya
santun dan penyayang kepada setiap makhluk-Nya
gembira ia melantunkan ayat-ayat-Nya
dan senantiasa senang mempelajarinya

ia tahu cara bersahabat dan penuh pengertian
ia selalu tampil gilang-gemilang
bak matahari bersinaran
menjadi lebih baik pada setiap langkahnya
menjadi lebih cantik dalam hatinya

ia bagaikan surga
ia adalah wanita utama
ia teladan bagi siapa saja

sanggupkah engkau meninggalkan semua
kenikmatan lain yang merusakkan
andaikan ia ada di pelukan?

Jumat, 26 Oktober 2007

PERTEMUAN

Hari –hari senduku

Minggu – minggu hampaku

Bulan – bulan senyapku

Tahun – tahun hambarku

Windu – windu sendiriku

Terasa semakin menjauh

Menjadikanku tersenyum

Dalam tiap kelanaku

Ketika malam itu

Ku temukan dirimu,

Ku temukan dirimu!

8 Oktober 2007

Senin, 08 Oktober 2007

Empat Sajak Senja


ELEGI SENJA
Oleh
Misbach


gugusan mega mengarak senja yang terus bertanya-tanya tentang jalan
yang Kau bentang sebagai sajadah untuk sujud di tepi-tepi waktu di
gigir-gigir beku yang menggigilkan kedirianku yang melayah rendah
mendekati sarangMU


matahari yang tunduk, setinggi ujung kaki yang menekuk, menekuri
gerbang petangMU, dan sayapku terus saja memukuli udara mencari
pijakan kata untuk menambatkan luka yang menganga di dadaku.

aku mencariMU! aku mencariMU!

jakarta, 3 oktober 2007


senja dari jakarta
: kepada misbach
oleh
yon’s revolta

saya terima kabar senja dari kotamu
kota yang selalu bernafsu membeli senja

baiklah...

ijinkah saya kirimkan segores senja
khusus untukmu.
senja yang terbuat dari ketulusan jiwa
sebagai sajadah dalam setiap sujudmu


KUTERIMA SEPOTONG SENJA
:Yon’s, Magelang
Oleh
Misbach

kuterima sepotong senja dengan gunung-gunung dan bias jingga
batang-batang sungai dan dan bintik-bintik cahaya
dulu aku pernah di sana dan kini pun tetap merindukannnya

adakah gericik air dan kabut itu masih setia
menghantar ngungunku padaNya?

jakarta, 4 september 2007

senja kita samakah?
:to Misbach & Yon's
oleh
ema apriyani


bagi mereka yang menjagakan jiwa menatap senja
menyalakan lilin tafakur dalam deru langkah ataupun
hening yang terpesona...


Senja itu Merah Lalu Nila Adakah dia senja yang
berduka?
karena disini aku melihat senja ku nila merona
dibawahnya klakson berbunyi lelah menjerit putus asa
dan tangan-tangan kecil itu terus saja menggapai receh

dan senja pun berlalu dalam pucat
dia tidak merah seperti senja mu
adakah dia juga senja yang sama?
ataukah kita berada pada langit yang berbeda?

Jumat, 05 Oktober 2007

Kesunyian


aku mengawalinya dengan sebuah nama.

ada orang sedang bermain game,
nonton tivi, ngutak-atik motor, memandang senja,
menyiram rumput, melamum, surfing internet,
dan aku mengambil pena dan secarik kertas
untuk memulai menuliskan sebuah nama.

orang-orang semakin tenggelam dalam kesendiriannya
ada radio yang tak henti-henti memutar lagu
boneka dalmatian kecil memeluk jam weker
ayam berkokok dan senja semakin memerah
aku masih memikirkan sebuah nama.

orang bingung menatap dirinya dengan gelisah
dunianya tak lebih dari sebuah kamar sempit
ia mengira, sebuah rumah adalah isi dunia
dan aku mulai menulis huruf depan sebuah nama.

ada buku-buku setengah terbuka
ratusan pembatas buku telah terselip di sana
di dalam kardus, tumpukan buku bosan menunggu
aku sudah sampai pada pertengahan nama.

penyanyi bersuara emas melantunkan
”I have nothing,”
aku pikir siapa yang punya apa-apa
mungkin ia hanya memiliki dirinya sendiri
dan bahkan sebuah lagu untuk dinyanyikan
aku pun sudah sampai pada sebuah nama.

senja mulai menggelap
selubung malam mulai menyebar
dan aku telah berbekal sebungkus rokok.

k e s u n y i a n,
demikian nama yang tertera di atas kertas.

nampaknya, aku harus segera menyalakan lampu...

Rabu, 03 Oktober 2007

Kontemplasi Kupu-kupu Mati



seekor kupu-kupu telah mati
aku melihatnya di dendang aspal
dan kutepikan ia di sela pagar

seekor kupu-kupu mati malam ini
atau mungkin sore tadi dikala hujan rinai
panjang sayapnya
beralurkan kehidupan

seekor kupu-kupu pamit malam ini
lewat sudah metamorfosisnya
muntah ruah isi abdomen
mengantarkannya mungkin pada purgatory
siapa tahu…

sebelum pergi aspal bekas jasadmu
berbisik kepadaku:
kupu-kupu itu mati bersama benih anak-anaknya!

puisi hidup



seorang anak muka cemang-cemong
tersenyum-senyum di atas menara
kaki, badan siap memeluk tanah
dengan kecepatan tinggi.

seorang badut entah laki, entah wanita
jingkrak-jingkrak ditingkahi dangdut
warna-warni baju gombrongnya
pakai sepatu tak bertali.

warga berlari-lari, hati cemas
orang pintar baca mantera
para pemuda ikut naik menara
polisi berdatangan tapi tak bisa apa-apa
hujan mulai menitik.

motor-motor bernyala berseliweran
lampunya menantang matahari
mata tak lagi awas, katanya
kecelakaan dilawan salah kaprah

si badut lama berjingkrak dan bersorak
sekeping uang pun tak bisa diharap
ibu-ibu gendong bayi depan tivi
melihat idola yang selalu dinanti

kualihkan pandang ke sekitar
burung-burung berteduh dan masih bercericau
ikan mas koki menggoyangkan ekornya
adzan mulai berkumandang.

seorang tukang reparasi payung lewat
……
seorang tukang jual tangga lewat
……
seorang ibu-ibu jual kasur kapuk
……
seorang pengamen puisi menjerit

kesemuanya berpeluh berdebu
muka merah terbakar
wajah merana
mata suram
bibir pun pucat

si anak gila diamankan polisi
entah mau diapa,
diantar mati barangkali?
si badut pun berlalu
sedang televisi jalan terus
hujan mulai mereda.

zaman ini memang lebih enak
tapi bukan berarti bisa kerja enak-enak
si gila begitu tersiksa
yang tidak gila jangan ikut menderita

batang hijau dapat bersuara
gelas-gelas berdenting merdu
mulut pun bersiul mendayu

di mana saja puisi dapat hidup

puisi getir,

puisi cengir,

puisi…

negeri senja

dari judul cerpen Seno Gumira Ajidarma


negeri senja yang kucari
negeri di mana awan melayang
di antara kibaran rambutku
negeri di mana deburan ombak
dan kicauan burung layang-layang
terdengar di atas horizon
negeri di mana keheningan adalah tuannya
negeri di mana diri menjauh
dari segala galau dan gundah
sebuah negeri yang hanya pikir
yang diizinkan tinggal di sana
negeri yang keinginan tak mendapatkan tempatnya
negeri yang penuh dengan kasih dan pengampunan

sebuah negeri di mana aku akan pulang ke sana…